lundi 14 mai 2012

Cerita tentang si "galau"

Sudah cukup lama sepertinya engga posting, ya hampir sekitar 3 bulan lebih. Bulan-bulan kemarin sibuk dengan beragam aktifitas, sampai meluangkan waktu untuk menulispun engga ada. sedih rasanya. menulis di blog itu buat saya adalah berekspresi dan berbagi. he he.

Sudah lama engga bertemu seorang teman yang dahulu sering main dan sering ngobrol ngablu, absurd bareng dan bertemu lagi itu rasanya menyenangkan! sebut aja dia kumis. dia salah satu teman saya yang cukup aneh tapi terkadang kata-kata bijak keluar dari mulutnya. (ini mejik) ha ha!!
Suatu ketikdaksengajaan membuat saya bertemu lagi dengannya, terjadilah perbincangan yang engga penting namun menyenangkan hingga akhirnya terjadi perbincangan yang serius tapi asyik ciamik cikhita meidy gitu deh (apasih?)

Ya, saya dan kumis akhirnya membahas persoalan "GALAU" sebuah kata yang sepertinya  sedang eksis disebut-sebut banyak orang. Kumis becerita sedikit persoalan dirinya dan hal yang membuatnya galau. dan saya pun menambahkan juga dengan sedikit cerita ke kumis tentang kegalauan saya, lalu kita berdua berpikir apakah penting adanya syndrome "KEGALAUAN" ?? apakah ini wajar kalau kita pernah mengidap syndrome itu?? kayaknya mainstream banget ya. cuih. jujur saya sendiri pernah merasa jijik dan geli akan rasa galau yang pernah saya derita, sumpah geli abis. (untung udah sembuh, ikut terapi lumba-lumba) dan si kumis teman saya itupun pernah merasa "kok gue galau sih" ya kita berdua sepengalaman kali ya, tapi saya yang paling enek sama masa lalu galau saya itu, hingga akhirnya kumis bilang ke saya: "engga apa tau dit, rilek aja rilek jangan gitu-gitu amat, pernah galau itu keren tau"

Kalau dipikir iya juga sih, mau bagaimanapun kan yang pernah galau itu diri saya sendiri, kenapa mesti geli dan jijik sendiri sama masa lalu kegalauan ya? justru kesimpulannya adalah, pernah galau? berarti kalian ex-galauers (gaul engga tuh sebutannya?) pernah melewati fase-fase dimana pikiran dan logika kita dikendalikan oleh perasaan dan emosi yang berlebih, diatas normal hingga akhirnmya bisa membuat itu semua stabil lagi.

Galau itu wajar dan normal, buatlah kegalauan itu jadi berkualitas jangan cuma nangis-nangis, mewek-mewek, stalkerin twitter atau social networking lainnya, meminta belas kasihan orang-orang dan putus asa. itu baru galau yang norak. :p
Buatlah galau kalian menjadi galau yang berkualitas dan tetep independen!